PERISTIWA

BPPT-JICA LAKUKAN RISET TEMUKAN SENYAWA BARU OBAT ANTI-MALARIA DAN DISENTRI

HARIANTERBIT.CO – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berupaya temukan kandidat senyawa baru untuk obat anti-malaria. Demikian disampaikan oleh Kepala Balai Bioteknologi BPPT Dr Agung Eru Wibowo MSi, Apt, dalam acara “Simposium Internasional Pengembangan Bahan Baku Obat berbahan Alam” di Jakarta, Senin (21/8). Hal ini dilakukan karena obat yang ada sekarang dianggap sudah memiliki resistensi.

“BPPT tengah menguji ekstrak mikroba atau bakteri sebagai obat penyakit infeksi, yaitu malaria dan diare. Riset ini dilakukan oleh BPPT, yang bekerja sama dengan dua lembaga internasional dari Jepang dalam program Inovasi Pengembangan Obat Anti-Malaria dan Amoeba, yakni Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED),” terang Agung.

Kepala Balai Bioteknologi BPPT ini juga menyampaikan, penyakit malaria dan diare menjadi penyakit infeksi terbesar di dunia, termasuk Indonesia. Kedua penyakit ini memang sudah ditemukan obatnya. Akan tetapi, resistensi obat (keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik) semakin tinggi. Bahkan, obat malaria dan diare yang terbaru sudah didapati yang resisten.

Indonesia jelas mimiliki keanekaragam hayati, baik tanaman dan mikroba, yang berpotensi sebagai obat. Untuk itu BPPT melalui lab bioteknologi sedang menyeleksi dan mengkaji senyawa aktif dari koleksi isolat mikroba yang bisa dijadikan kandidat obat baru anti-malaria dan disentri (anti-amoeba).

Kepala Balai Bioteknologi BPPT Dr Agung Eru Wibowo MSI, Apt memberikan laporan terakhir perkembangan kerja sama BPPT-JICA dalam pencarian kandidat senyawa obat anti-malaria di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (21/8).

“Kerja sama dalam kerangka Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (Satreps) ini dilakukan dalam waktu lima tahun. Dalam dua tahun berjalan ini sejumlah riset sudah dilakukan,” ungkap Agung.

Lebih rinci diuraikan, dari 25.000 koleksi isolat mikroba yang dimiliki BPPT, sudah dilakukan ekstrak terhadap 12.000 isolat mikroba dan 200 ekstrak di antaranya memiliki potensi senyawa aktif. Pihaknya berharap, dari jumlah itu bisa ditemukan senyawa aktif untuk anti malaria dan amebiasis atau antidisentri. “Dari 200 kandidat itu, perusahaan farmasi pasti memilih yang benar-benar potensial,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Program Inovasi Pengembangan Obat Anti-Malaria dan Amoeba BPPT Danang Waluyo mengungkapkan, keragaman isolat mikroba Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang dimiliki oleh luar negeri.

“Dalam 12 tahun terakhir kita ekplorasi dari Aceh hingga Papua mengumpulkan isolat mikroba di 60 lokasi dan 30 pulau yang dikenal mampu menghasilkan senyawa obat,” katanya.

Menurutnya, untuk dapat menghasilkan obat butuh melewati berbagai uji praklinis dan klinis. Ia berharap, pada tahun kelima bisa mendapat senyawa kandidat –untuk malaria dan diare– yang sudah murni dan diuji toksisitasnya pada hewan uji. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *