BISNIS

PEMBIAYAAN LRT JABODETABEK, CONTOH MODA PADAT PENDUDUK

HARIANTERBIT.CO – Skema pendanaan Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) yang tidak dibebankan sepenuhnya pada APBN menurut Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan akan dijadikan model pembiayaan pada pembangunan LRT di kota lain yang padat penduduknya.

“Pengalaman ini pertama kali untuk kita dengan struktur finance ini nanti akan kita pakai di daerah daerah yang padat penduduk seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Ujungpandang,” ujar Menko Luhut saat mengunjungi proyek pembangunan LRT ruas Taman Mini-Cibubur, Jumat (4/8).

Lebih jauh, dia menjelaskan, pembiayaan proyek LRT Jabodetabek 20 persen dibebankan APBN dan sisanya berasal dari pendanaan sektor swasta. Ada beberapa lembaga pembiayaan dalam negeri yang sudah menyatakan ketertarikannya untuk investasi seperti yakni CIMB Niaga, BNI, Mandiri, BRI, BCA dan PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur).

“Saya sudah kontak dengan BlackRock, mereka sudah tertarik untuk masuk (berinvestasi Red.) ke proyek ini,” imbuh Menko. BlackRock, perusahaan investasi global yang berpusat di Amerika Serikat itu kini memiliki modal hingga 3,5 triliun dolar AS.

“Dengan model ini, kita tidak perlu mengandalkan terlalu banyak APBN untuk mendanai proyek infrastruktur sehingga kita bisa menjalankan amanah presiden untuk memanfaatkan APBN bagi program pemberdayaan masyarakat,” kata Menko Luhut kepada media.

Dalam kunjungannya bersama Menhub Budi Karya Sumadi ke proyek pembangunan LRT Ruas Taman Mini-Cibubur, Luhut Pandjaitan menilai progres pembangunannya sudah sangat baik.

“Tadi saya dengan Dirut PT Adhi Karya, Budi Harto baru melihat karya baru lagi dari anak bangsa, jadi Kementerian Perhubungan dengan proyek LRT-nya ini sudah 37 persen (Cibubur-Cawang-red), ada memang masih 7 persen (Bekasi Timur-Cawang, Red.), ada pula yang masih yang 3 persen (Cawang-Dukuh Atas-red), jadi progresnya sangat bagus,” ujar Menko.

Kendati masih terkendala masalah pembebasan lahan di beberapa titik, namun pemerintah berupaya keras untuk segera menyelesaikannya.

Pada kesempatan yang sama, Menko juga menyatakan Menhub Budi Karya Sumadi telah memerintahkan PT Adhi Karya untuk membuat penghitungan pembiayaan LRT di ruas Cibubur-Bogor, sehingga diharapkan akhir tahun ini kajiannya selesai dan pembangunan konstuksi bisa dimulai pada awal tahun 2019.

Apabila jalur tersebut selesai dibangun, Menko mengatakan, jalur LRT akan bisa menyambung hingga ke Bogor. “Dengan demikian kita berharap sekarang 43 km sekian tambah Bogor jadi hampir 70km seluruhnya. Itu akan selesai kita harapkan 2020,” sebut Menko Luhut.

Selain pembiayaan yang tidak memberatkan APBN, dalam pembangunan LRT Jabodetabek ini pemerintah berupaya melakukan optimalisasi dengan menggunakan sistem sinyal moving block. “Dengan mengganti fixed block dengan moving block jumlah penumpang dapat meningkat dari sekitar 260 ribuan per hari menjadi sekitar 470 ribuan per hari.

Dengan masih berjalannya pembangunan LRT Jabodetabek tersebut, Menko yang didampingi oleh Menhub Budi Karya Sumadi menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

“Kami semua minta maaf pada publik karena dengan pembangunan pak Dirut Adhi Karya dan pak Budi ini pasti menimbulkan ketidaknyamanan tapi ya memang kita tidak punya pilihan lain,” kata Menko dengan mimik serius.

Oleh karena itu, dia meminta kepada pihak-pihak terkait agar dapat menyelesaikan pembangunan sesuai jadwal. “Kita berharap semua proses ini bisa selesai jadi tidak terlalu lama masalah lalu lintas ini terganggu, pungkasnya. (hasyim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *