Dari kiri ke kanan: Prof. DR. Dr. Bambang Budi Siswanto, SpJP (K), Rumah Sakit Harapan Kita, Dr. David Sim, National Heart Center Singapore1, Dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes, Milan Paleja, President Director Novartis Group Indonesia.
KESEHATAN

KENALI GEJALANYA, JANGAN ABAIKAN PENYAKIT GAGAL JANTUNG

HARIANTTERBIT.CO – Masih terjadi kesalahpahaman seputar gagal jantung di antara masyarakat Indonesia. Padahal penyebab utama terjadinya gagal jantung karena gaya hidup kurang sehat seperti jarang berolahraga, kebiasaan makan yang kurang tepat dan merokok. Perilaku seperti ini masih menjadi keseharian yang dijalani anggota masyarakat.

“Penyakit gagal jantung tidak dapat disembuhkan, oleh sebab itu sangat penting bagi masyarakat agar lebih paham akan penyakit ini dan mengetahui gejala-gejalanya agar pengidap gagal jantung dapat memiliki kehidupan yang lebih aktif dan panjang,” kata Prof Dr Bambang Budi Siswanto dari Rumah Sakit Pusat Jantung Harapan Kita saat acara prescom bersama Novartis Indonesia di Hotel Borobudur Jakarta, kemarin.

Hadir pula memberikan materi Milan Paleja, president director Novartis Group Indonesia, Dr Lily Sriwahyuni Sulistyowati, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan Dr David Sim, National Heart Center Singapore1.

Menurut Prof Bambang Budi, jantung adalah salah satu organ terpenting, namun terkadang orang cenderung mengabaikan gejala yang mengisyaratkan bahwa jantung mereka sedang bermasalah. Gagal jantung adalah kondisi kronis yang serius ketika jantung tidak dapat lagi memompa cukup darah demi memenuhi kebutuhan oksigen tubuh akibat melemahnya otot jantung seiring berjalannya waktu. “Hal Ini bisa mempengaruhi tiap individu berapa pun usianya,” kata Prof Bambang.

Presiden Direktur Novartis Indonesia Milan Paleja mengatakan, pihaknya selalu siap mendukung pemerintah Indonesia dan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk membantu pasien Indonesia yang menderita penyakit kardio-metabolik, seperti diabetes, hipertensi dan gagal jantung, baik melalui JKN maupun pasar komersial.

“Kami berharap dapat membantu meringankan beban sosial maupun ekonomi sebagai akibat penyakit ini. Adalah sebuah kebanggaan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan pemangku kepentingan lainnya untuk dapat mencapai lebih banyak pasien di Indonesia,” kata Milan.

Pasien lebih muda
Sementara menurut Prof Bambang Budi dari RSPJ Harapan Kita, dibandingkan dengan negara Barat, gagal jantung pada pasien Asia Tenggara terjadi pada usia yang lebih muda dan ditandai dengan kondisi klinis yang lebih parah, dengan faktor risiko vaskular seperti hipertensi, obesitas dan diabetes. Secara konsisten selama satu dekade, pasien gagal jantung di Asia telah terbukti lebih muda dari pasien di Eropa.

“Studi juga menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien gagal jantung lebih buruk dibandingkan kondisi kronis lainnya. Hal ini mengganggu pasien untuk melakukan tugas sederhana dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari dengan teman dan keluarga –statistik menunjukkan bahwa 76 persen pasien berjuang untuk melakukan aktivitas sehari-hari pascadiagnosis dengan gagal jantung,” katanya.

Secara global, meningkatnya beban hidup dari gagal jantung memberikan beban yang sangat berat kepada masyarakat, terutama pada pasien, caregiver dan sistem jaminan kesehatan. Beban ekonomi yang diakibatkan oleh penyakit gagal jantung, sebagian besarnya, berasal dari seringnya dan lamanya perawatan di rumah sakit bagi para pasien.

Caregiver juga menanggung beban emosional, fisik, dan finansial yang tinggi ketika mereka merawat anggota keluarganya yang menderita gagal jantung. Untuk menemukan solusi terhadap penyakit ini, perusahaan farmasi seperti Novartis, secara aktif membuat penemuan yang membawa pengobatan medis ke arah yang baru. (nur)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *