RENUNGAN

NYONTONI, NGANCANI LAN NGEDUMI

ilustrasi

HARIANTERBIT.CO – Melakukan reformasi secara instrumental, struktural dan kultural memerlukan pemimpin yg mampu memberi teladan, mampu menjadi kawan dan mampu menjadi tempat berbagi ( nyontoni, ngancani lan ngedumi). Reformasi akan terus bergulir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam menghadapi dinamika perubahan jaman yang begitu cepat.

Perubahan instrumental di era digital begitu cepat dan mampu membuka labirin uang menjadi sekat ruang dan waktu. Mereformasi secara instrumental membangun sistem-2 yg terhubung secara elektronik.

Cara-2 manual konvensional dan parsial sudah mulai di geser dengan sistem-2 digital sebagai imbanganya. Secara instrumental hal-2 yg bisa di on line kan segera ďilakukan untuk mampu memberikan pelayanan prima.

Tentu juga secara struktural untuk mengawakinya diperlukan sumberdaya manusia yg memiliki karakter ( komitmen, kompetensi dan keunggulan). Merubah struktur tidak selalu membesarkan, melainkan menjadikan profesional, cerdas, bermoral dan modern.

Dengan demikian akan menjadi efektif dan efisien secara struktural namun pada hal2 yg fungsional ini bisa semakin dikembangkan sebagai bagian dari mewujudkan profesionalisme.

Reformasi secara kultural inilah yg paling mendasar karena akan merubah mind set dan culture set. Kelompok2 mapan dan nyaman akan mati2an mempertahankan status quo dan zona nyamanya.

Merubah kultur atau budaya memerlukan kemauan dan kemampuan yg kuat untuk menggeser yg sudah mengakar menuju tata baru di era digital. Kemapanan dan kenyamananya sudah mengakar dan mendarah daging hingga disinggung sedikit saja sudah akan menggeliat melakukan perlawanan.

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

NYONTONI LAN NGANCANI

Reformasi kultural dimulai dengan adanya :
1. Kèteladanan dari pemimpinya yang bisa nyontoni, ngancani bahkan ngedumi;
2. Edukasi sebagai sarana transformasi
3. Membangun infra struktur dengan sistem2-nya, sehingga dapat meminimalisir kesempatan atau kemungkinan2 terjadinya penyimpangan;
4. Penegakkan hukum yang konsisten dan konsekuen sebagai fungsi kontrol untuk membangun peradaban dalam menyelesaikan masalah, mencegah, melayani dan melindungi serta mengayomi korban dan pencari keadilan; agar ada kepastian dan sebagai bagian dari edukasi

Empat point tersebut merupakan landasan menjadikan reformasi yang mewaraskan dan mengangkat harkat martabat manusia bangsa dan negara.

Reformasi bukanlah retorika atau kepentingan2 supervisial dan seremonial semata, melainkan untuk dapat terus hidup tumbuh dan berkembang. Mereformasi merupakan langkah untuk meprediksi, mengantisipasi serta memberi solusi.

Di sinilah kelas pemimpin sebagai satria-2 piningit di semua lini diperlukan untuk nyontoni, ngancani bahkan mampu ngedumi.- Brigjen Pol. Crisnanda DL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *