KASUS

DOA BERSAMA 171717 UNTUK LEBIH SALING MENGASIHI

Manusia adalah makhluk individu sekaligus mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam kehidupannya sebagai mahluk sosial.

Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya, salah satunya adalah perbedaan agama.

Manusia diciptakan Allah Subhanahu wataala bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal di antara sesama. Perbedaan di antara manusia adalah sunnatullah yang harus selalu dipupuk untuk kemaslahatan bersama.

Perbedaan tidak melahirkan dan menebarkan kebencian dan permusuhan. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. (QS. Al Hujurat; 13).

Panglima TNI Gatot Nurmantyo

Toleransi beragama memiliki arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan menghargai pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah mereka menurut ajaran dan ketentuan agama masing-masing yang diyakini tanpa ada yang mengganggu atau memaksakan baik dari orang lain maupun dari keluarganya sekalipun.

Adapun kaitannya dengan agama, pengertian toleransi beragama adalah toleransi yang mencakup masalah – masalah keyakinan pada diri manusia yang berhubungan dengan akidah atau yang berhubungan dengan ke-Tuhanan yang diyakininya.

Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri.Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya.

Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.

SALING MENGHORMATI

Sebagai mahluk sosial, manusia harus saling menghormati dan berlapang dada terhadap pemeluk agama lain, tidak memaksa mereka mengikuti agamanya dan tidak mencampuri urusan agama masing-masing.

Umat Islam diperbolehkan bekerja sama dengan pemeluk agama lain dalam aspek ekonomi, sosial dan urusan duniawi lainnya. Dalam sejarah pun, Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam telah memberi teladan mengenai bagaimana hidup bersama dalam keberagaman.

Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organissai harus saling membantu.

Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan.

Menyatu Dalam Kebinekaan Untuk Memperkokoh Kesatuan Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain.

Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antara aksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif.

Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antar individu.

Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama. Dalam hal ini dikembangkanlah perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Bahwa pentingnya silaturahim bagi seluruh komponen bangsa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan NKRI. Silaturahim yang dilakukan seluruh komponen sebagai wujud Indonesia yang begitu damai. Inilah wujud Indonesia bersatu, apabila selalu bersama-sama pasti negara kita akan aman dan damai.

Letkol Solih

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa sifat yang dibenci Allah SWT adalah sifat yang sombong dan takabur, justru seorang muslim harus rendah hati. Muslim yang baik adalah Muslim yang mengenal dan mengamalkan sifat-sifat Allah SWT.

Orang yang mengenal sifat Allah adalah orang yang Akhlakul Karimah (orang yang memiliki akhlak mulia). Orang yang mempunyai akhlak mulia pasti dekat dengan Allah SWT dan selalu mengutamakan kebaikan dan kebahagiaan orang lain, sedangkan orang yang suka menyakiti hati orang lain itu bukan akhlak yang mulia karena itu bukan ajaran islam.

Jangan saling menyalahkan, menyebar kebencian, menjelekan dan saling mengkafirkan orang lain. Hal ini sering terjadi sehingga membuat beberapa tempat tidak damai, apabila terus berlanjut maka negara kita bisa porak poranda akibat perang sendiri.

Kita harus hidup damai dengan berahklak mulia. Benih ini sudah ada, mari kita sama-sama sadarkan saudara-saudara kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang lain bahkan yang mengatakan kafir kepada orang lain, ini adalah bibit-bibit konflik antar agama yang dipicu mulai dari hal yang kecil hingga meningkat kepada kelompok yang besar.

Itulah kekhawatiran Panglima TNI kenapa TNI menggelar gerakan 17-17-17 yang diselenggarakan di markas-markas TNI diseluruh Indonesia secara serentak yang melibatkan seluruh elemen bangsa dan tidak mengenal suku dan agama, semua berdoa untuk keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI, kita ikrar dan saling sayang terhadap sesama tidak memilih itu suku mana dan agama apa, kita bertekad untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

PANCASILA PEMERSATU

Pancasila Sebagi Pemersatu Anak Bangsa Keragaman atau kebinekaan kita belakangan ini memang kian mendapatkan tantangan dalam beragam bentuk dan kesempatan.

Diantaranya adalah adanya semakin menipisnya rasa nasionalisme (kebangsaan) sebagian masyarakat kita, khususnya generasi muda, hingga adanya sekelompok orang yang hendak mengganti dasar ideologi Pancasila dengan landasan agama tertentu.

Diantara lima sila dalam Pancasila terkandung makna yang begitu luas dan mendalam, jika kita implementasikan dengan benar dan baik maka ia akan menjelma menjadi perekat bangsa.

Dalam tulisan ini penulis memulai dengan mengulas sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa dan sila ketiga, Persatuan Indonesia yang terkait langsung dengan semangat kebangsaan agar kita terhindar dalam disintegrasi bangsa.

Pertama, sila Ketuhanan Yang Mahaesa menandaskan bahwa semua pemeluk agama dan juga penghayat kepercayaan hanya menyakini bahwa Tuhan itu Esa, tiada duanya.

Agama-agama dan kepercayaan juga mengajarkan satu hal yang sama, yakni cinta kasih pada sesama. Cinta kasih inilah yang memungkinkan antarpemeluk agama dan penghayat kepercayaan dapat hidup berdampingan penuh toleransi, saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

CINTA KASIH

Semangat toleransi berdasarkan cinta kasih itulah yang membuat kita selalu merasa sebagai satu bagian utuh dan tak lagi menonjolkan primordialisme sempit yang kerap dipertentangkan.

Bahkan perbedaan agama pun tak harus membuat kita menjaga jarak sehingga enggan menjalin kebersamaan dalam semangat persatuan sebagai bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesian (NKRI).

Kedua, sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia menandaskan adanya persatuan dalam keragaman yang kita miliki. Mulai dari suku, etnis, adat istiadat, budaya, hinga agama.

Artinya, dengan keragaman tersebut kita justru tidaklah melihatnya secara negatife, melainkan sebagai sesuatu yang positif. Keragaman dapat melahirkan kekuatan sekaligus kedamaian bagi kita sebagai bangsa dan Negara.

Persatuan dalam keragaman inilah yang menjadikan seluruh masyarakat Indonesia merasa dalam satu kesatuan tubuh. Terlebih ketika hal tersebut dirawat dalam semangat kekeluargaan dengan jiwa gotong royong yang positif dan dinamis. Maka, kedekatan sebagai bangsa dan Negara akan semakin terlihat erat, meski kita terdiri atas beragam suku, ras, adat maupun agama ataupun keyakinan.

Semangat gotong royong yang telah menjadi kultur masyarakat Indonesia seyogyanya dapat selalu menopang dan mempererat rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dan Negara.

Apalagi jika didasari dengan landasan cinta kasih yang diajarkan oleh agama-agama dan kepercayaan yang ada di Bumi Pertiwi ini. Maka, disintegrasi bangsa tak lagi menjadi momok menakutkan bagi kita.

Prinsip Indonesia sebagai negara “bhineka tunggal ika” mencerminkan bahwa meskipun Indonesia adalah multikultural, tetapi tetap terintegrasi dalam keikaan dan kesatuan.

KONFLIK DAN KEKERASAN

Namun, realitas sosial-politik saat ini, terutama setelah reformasi, menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan: konflik dan kekerasan berlangsung hanya karena persoalan-persoalan yang sebetulnya tidak fundamental tapi kemudian disulut dan menjadi isu besar yang melibatkan etnis dan agama.

Persatuan merupakan kata yang penting di dalam Indonesia yang beragam dalam hal agama, suku, etnis dan bahasa. Pentingnya persatuan sebagai landasan berbangsa dan bernegara Indonesia bukan hanya bertumpu pada perangkat keras seperti kesatuan politik (pemerintahan), kesatuan teritorial, dan iklusivitas warga, akan tetapi juga memerlukan perangkat lunak berupa eksistensi kebudayaan nasional.

Kini kita seolah kembali sadar tentang arti penting Pancasila sebagai kekuatan perekat dan pemersatu. Tanpa harus menghilangkan perbedaan dan identitas. Apabila ada yang kemudian berpikir lain atau mencoba mengotak atik dasar negara, maka mereka sesungguhnya lupa bagaimana dan untuk apa negara ini didirikan.

Pancasila bukan ciptaan Tuhan namun hasil pemikiran manusia yang mendalam dan akhirnya menjadi sebuah kesepakatan. Maka melalui pendidikan nilai-nilai pancasila harus ditanamkan sebagai dasar Negara yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila sudah teruji dengan segala cobaan dan rintangan namun bisa kita tepis dengan kebersamaan dan kekompakan Bangsa Indonesia yang cinta NKRI.

LAWAN ADU DOMDA

Presiden Joko Widodo sebagai Panglima Tertinggi TNI, meminta para prajurit melawan adu domba yang akhir-akhir ini menguat dan memerintahkan agar TNI tidak menoleransi gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi.

Berangkat dari pernyataan Presiden Jokowi, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berkeinginan untuk menyatukan bangsa yang majemuk kembali hidup yang rukun damai dan saling mencintai sesama anak bangsa yang berbeda suku dan agama, menjadi hidup yang saling toleran bersatu menjaga dan mempertahankan NKRI yang kita cintai.

Sikap Humanis Bapak Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berkeinginan untuk menyatukan semua komponen bangsa dengan cara berdoa bersama baik itu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha di tempat milik TNI diseluruh Indonesia adalah pemikiran cerdas yang tidak semua orang bisa melakukannya.

Dengan waktu yang bersamaan dan jam yang bersamaan, yang dikemas menjadi cinta kasih dan kasih sayang sema umat beragama yang begitu heterogen untuk menjaga keragaman berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, ini adalah harga mati kita harus dipelihara, dijaga dan dipertahankan.

Oleh sebab itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berencana menggelar aksi 171717 pada 17 Agustus 2017 pukul 17.00 mendatang. Aksi 171717 tersebut merupakan ajang doa bersama di seluruh wilayah Indonesia dengan peserta masyarakat dari berbagai suku dan agama.

Itu semua, artinya bagi yang beragama Islam khusus para Hafiz Al-qur’an atau penghafal Al-Qur’an untuk Khataman bersama dan bagi yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Konghucu berdoa bersama selama 1 jam, mulai pukul 17.00 s.d.18.00 dengan tujuan berdoa agar Indonesia penuh kasih sayang.

Dengan begitu diharapkan masyarakat Indonesia akan saling berkasih sayang dan jauh dari keributan. “Saya tidak lihat kelompok berseberangan atau tidak, pokoknya semuanya yang beragam mari berkumpul bersama sama berdoa. Kalau kita penuh dengan kasih sayang enggak akan ribut ribut,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Oleh Letkol Inf Drs. Solih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *