PERISTIWA

BMKG BERSAMA DELAPAN LEMBAGA NASIONAL DAN TUJUH INSTITUSI INTERNASIONAL LAKUKAN RISET MARITIM CONTINENT

HARIANTERBIT.CO – Sebanyak sembilan lembaga nasional yaitu, BMKG, BPPT, ESDM, IPB, ITB, KKP, LAPAN, LIPI dan Kemenristek Dikti, bekerja sama dengan tujuh institusi internasional yakni, JAMSTEC, NOAA, NASA, UK MetOffice, BoM, NEA dan UKM, melakukan riset bersama dalam kerangka Years of Maritime Continent (YMC) 2017-2019 dalam konsorsium nasional, dengan BMKG ditunjuk sebagai koordinator konsorsium.

Lima tema besar yang akan diangkat dalam kegiatan yang berlangsung Juli 2017 hingga Juli 2019 ini adalah konveksi atmosfer, proses permukaan laut dan interaksi laut-udara, interaksi stratosfer-troposfer, aerosol, dan peningkatan prediksi melalui observasi dan pemodelan. “Kelima isu tersebut akan dijabarkan dalam lingkup penelitian yaitu sharing data, observasi lapangan, pemodelan, prediksi dan aplikasinya, serta peningkatan kapasitas SDM,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DR Andi Eka Sakya MEng, saat acara pembukaan Years of the Maritime Continent (YMC) Research Campaign 2017-2019, di Kantor BMKG Jl Angkasa I, Kemayoran Jakarta, Senin (17/7).

Kerja sama ini dilatarbelakangi adanya tantangan terhadap pemahaman dinamika laut-cuaca-iklim di benua maritim yang berperan signifikan terhadap iklim global. “Nantinya BMKG akan menjadi data center selama kegiatan tersebut berlangsung. Kalau melihat data-data keterlambatan transportasi udara, banyak hal yang menyebabkan kerugian,” kata Andi Eka.

Kepala BMKG DR Andi Eka Sakya MEng, institusi internasional diwakiliki Co-chair YMC Scientific Steering Committee Dr Kunio Yoneyama dari JAMSTEC, Jepang, beserta jajaran karyawan BMKG, foto bersama usai acara peluncuran Years of the Maritime Continent (YMC) Research Campaign 2017-2019 di Kantor BMKG Jl Angkasa I Kemayoran Jakarta, Senin (17/7).

“Tentunya hal ini bisa diatasi kalau prediksi cuaca diperbaiki, lebih dari 30 triliun yang bisa diselamatkan akibat kerugian tersebut. Upaya ini telah lama dilakukan sejak 2104 dan saat ini memasuki realisasinya, kita berharap kegiatan ini bisa sukses dilaksanakan dan menjadi langkah yang besar bagi Indonesia,” sambungnya.

Selain itu, dilaksanakan pula pelayaran Indonesia Prima di perairan Sumatera pada Februari-Maret 2016 dan Februari 2017 oleh penelitian BMKG-LIPI-NOAA. Dalam periode YMC Research Campaign ini, beberapa kegiatan penelitian yang telah mendapat dukungan dana dari institusi luar akan dilaksanakan bersama-sama dengan instansi nasional yang terlibat.

“Salah satu kegiatan terdekat yang akan dilaksanakan adalah Intensive Observation Period (IOP), yaitu kolaborasi pengamatan antara Indonesia dan Jepang untuk mengkaji interaksi siklus hujan harian (diurnal) dengan Madden-Julian Oscillation (MJO) di sepanjang pantai barat Sumatera,” ungkap Andi.

Kegiatan ini akan dilakukan dari November 2017 hingga Januari 2018, penelitian ini kembali akan menggunakan instrumen pengamatan yang terdapat di R/V Mirai dan pengamatan radioosonde di Stasiun BMKG. (*/dade/rel)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *