PERISTIWA

PANCASILA JANGAN DIJADIKAN ALAT LEGITIMASI

HARIANTERBIT.CO – Membumikan Pancasila bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan apabila akar masalahnya belum terselesaikan, pasalnya masyarakat tidak perlu lagi dipaksakan untuk memahami Pancasila, karena sesungguhnya masalahnya bukan rakyat yang tidak memahami Pancasila.

“Perhatikan dan lihat masyarakat di pedesaan dan daerah-daerah lebih Pancasilais daripada kita yang di kota, mereka hidup bergotong-royong, saling tolong-menolong, menghargai satu sama lain. Jadi kami rasa membumikan Pancasila sebaiknya lebih nyata lagi, bukan sekadar ucapan kata-kata doktrinasi saja, tapi lebih majunya lagi memecahkan masalah-masalah yang ada di lapisan paling bawah,” kata Akhrom Saleh SIP selaku juru bicara Komite Rakyat Nasional (Kornas), Rabu (14/6).

Akhrom Saleh SIP

Akhrom lebih mengatakan, kita sepakat bahwa Ideologi Pancasila telah final, tidak ada lagi yang dapat menggantikan Pancasila, bahwa Pancasila adalah kita ya Indonesia. Para pendiri bangsa memiliki dasar untuk menciptakan Pancasila, tentunya sesuai dengan keberagaman, suku, agama dan ras, ya jadilah Pancasila.

“Kita sepakat bahwa intoleransi harus kita singkirkan dengan cara beradab dan penuh rasa keadilan, sehingga akar masalahnya dapat kita identifikasi, kenapa kemudian banyaknya anak muda menjadi mujahid-mujahid yang bergabung kepada kelompok ISIS misalnya,” ujarnya.

Jadi jangan terus menyalahkan masyarakat yang tidak Pancasilais, sambung Akhrom, melainkan mari kita intropeksi diri khususnya dalam hal ini pemerintah. Presiden Sukarno telah menggagas Pancasila dan mewujudkannya, maka tugas pemerintahan sekarang adalah bukan sekadar membumikan Pancasila, namun lebih dari itu mengimplementasikan dalam bentuk yang lebih konkret lagi, sebagai contoh hentikan penggusuran dan penyerobotan misalnya.

“Apabila pemerintah tidak berhati-hati bisa jadi dimanfaatkan oleh lawan-lawan politik pemerintah dengan memutarbalikkan seolah-olah ini menjadi bentuk intimidasi pemerintah terhadap rakyat, seakan-akan doktrin yang dipaksakan. Masyarakat Indonesia bhineka tunggal ika, religius masyarakatnya, sudah terakomodir di sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, semua agama yang diakui masuk dalam sila itu. Begitu juga dengan sila ketiga, kita sudah dalam bingkai Persatuan Indonesia, serta sila keempat telah kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, jadi apa kekhawatiran terhadap Pancasila?” ungkap Akhrom.

Juru bicara Kornas menuturkan, perlu juga menjadi perhatian, kami sekadar mengingatkan jangan sampai membumikan Pancasila menjadi bumerang, kita semua cinta dengan negara ini, sehingga muncul pertanyaan yang paling mendasar apakah sila kedua dan sila kelima telah terwujud nyata dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia? Bila itu belum terwujud maka jangan selalu menyalahkan rakyat, masyarakat kita mengalami titik jenuh. “Maka dari itu selesaikan terlebih dahulu akar masalahnya, maka tahapan selanjutnya bumikan Pancasila,” pungkasnya. (*/dade/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *