CALON WALI KOTA PALEMBANG, HASIL SURVEI LSPI MULARIS DJAHRI PANTAS JADI

Posted on

HARIANTERBIT.CO – Lembaga Suvei Politik Indonesia (LSPI) merilis hasil survei Pilkada Kota Palembang 2018, yang digelar April-Mei 2018 lalu dengan kesimpulan tiga kandidat dipandang pantas memimpin Kota Palembang.

Koordinator Riset LSPI Indonesia Barat Muchtar S Syihab menyatakan, lembaganya memantau perkembangan persepsi pemilih Kota Palembang dan mengukur peta dukungan secara berkala. Ia menagaskan, sepanjang belum ada calon resmi yang disahkan KPUD, cara terbaik mengukur bajak calon kandidat terkuat adalah dengan menguji apakah publik mengenalnya, menyukainya, menerimanya dan bagaimana mereka menilainya. Survei akan menjadi semacam pit and proper test, ungkap pendapat responden soal para bakal calon.

Dalam survei terkini yang digelar lembaganya, Muchtar mengatakan responden menilai Pilkada Kota Palembang 2018 tak ada hal yang mencolok, itu karena para peserta yang sudah bersosialisasi masih orang-orang lama. Walau ada kejutan dengan munculnya figur baru seperti Lury Alex Noerdin, namun responden menilainya wajar.

“Lury dianggap kelanjutan trah Alex Noerdin, jadi sama sekali bukan figur baru, namun demikian responden berpendapat Lury pantas saja jadi pemimpin mereka namun untuk periode sekarang ini lebih pas jika jadi wakil wali kota,” ujarnya.

Muchtar memaparkan pertanyaan yang diajukan lembaganya kepada responden. Di antara bakal calon berikut, siapakah yang Bapak/Ibu/Saudara anggap pantas menjadi wali kota Palembang? “Responden menjawab, Mularis Djahri 20,99 persen, Sari Muda 18,26 persen, Harno 15,44 persen, sisanya terbagi pada beberapa nama lain. Tiga nama bakal calon punya derajat yang sama, artinya sama-sama dianggap pantas jadi wali kota,” ungkapnya.

Pertanyaan yang diajukan kepada responden ini menurut Muchtar sengaja diajukan mengingat banyaknya komentar mengenai sosok bakal calon yang telah beredar. Komentar yang berhasil dihimpun melalui FGD (Focused Group Discussion) dan analisis sosial media menunjukan publik enggan dipimpin oleh figur yang korup, sudah tua, lemah, tidak tegas, berada di bawah bayang-bayang kekuasaan pihak lain, berpenampilan tidak menarik dan tidak memiliki cukup resource untuk bergerak.

“Dari latar belakang itu kita cek melalui survei dengan jumlah responden sebanyak 800 orang dan margin of error sebesar 3,46 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen,” tutup Muchtar.

Sementara itu Agus S Maulana, direktur Riset LSPI menambahkan, ada tren baru dalam pilkada yang bisa dipelajari paling tidak dari dua kali pelaksanaan pilkada serentak, yaitu banyak calon petahana dan calon yang dominan justru tumbang di medan perang.

“Itu terjadi karena terlalu menonjolkan aspek elektabilitas sedari awal, padahal elektabilitas itu dinamis bergantung pada peristiwa dan kerja kampanye yang menyertainya. Artinya adalah, jangan pernah berpikir sekali diukur melalui survei elektabilitasnya tinggi, apalagi masih dalam arsir margin of error, kemudian merasa akan menang, banyak calon tumbang karena terbuai hasil survei model begitu,” demikian pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.