KASUS

PEDAGANG HP BEKAS SERING JADI SAPI PERAH POLISI NAKAL

HARIANTERBIT.CO – Polisi “nakal” kerap mencari-cari kesalahan pedagang handphone (HP) bekas. Oleh oknum berseragam itu, mereka dituduh sebagai penadah, padahal ia hanya ingin mencari sesuap nasi dengan cara jualan dengan modal pas-pasan. Curhat nasional penjual handphone digelar oleh Surat Kabar Unum (SKU) Amunisi menyambut HUT ke 10, menghadirkan nara sumber Kombes Pande Cakra (Mabes Polri), Hizbulah Assidiqi (pengamat hukum) dan dari Badan Peneliti Independen.

“Kami sudah cukup lama jualan HP bekas. Suatu ketika ada polisi menginterogasi kami karena kios saya dianggap menjadi penadah HP. Karena tidak bisa menunjukkan dokumen lengkap, saya sebagai pemilik kios dibawa ke kantor dan ditahan selama 15 hari,” kata Steven, pedagang HP di kawasan Mangga Besar, baru-baru ini, pada Curhat Nasional ” Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Konter dalam Transaksi Handphone” di Jakarta.

Lebih lanjut tentang curhat nasional, hal senada juga diungkapkan Rudi, pedagang HP lainnya “Sekarang kami agak ragu untuk membeli HP karena sewaktu-waktu bisa dianggap penadah. Ini pernah saya alami,” kata Rudi. Ia pernah dibawa ke kantor polisi karena ternyata HP yang dibelinya adalah HP hasil curian. Dia tidak bisa mengelak karena di kantor polisi ternyata pelaku pencurian sudah tertangkap dan mengaku telah menjual HP curiannya di kiosnya.

“Saya tak tahu apa-apa dan membeli HP tersebut pun dengan harga pasaran. Seharusnya saya disebut korban,” kata Rudi.

Kondisi ini membuat pedagang menjadi resah. Apalagi akhir-akhir ini semakin sering aparat keamanan yang mendatangi pedagang untuk dimintai keterangan tentang barang yang disangka sebagai curian. “Kami membeli dari seseorang. Dalam beberapa kasus, mereka menjual karena butuh uang, dan kami membeli untuk menolong penjual. Bukannya penadah,” kata peserta lainnya.

Kebanyakan peserta juga mengeluhkan, kehadiran mereka hanya ingin berdagang dan mencari rezeki, bukan malah rugi karena barang tersebut akhirnya disita polisi. Dalam beberapa kasus, pedagang bahkan harus mengeluarkan sejumlah uang yang nilainya cukup besar untuk “berdamai” dengan aparat kepolisian agar tidak lagi dituduh sebagai penadah.

“Pedagang yang kerap terkena masalah adalah penjual HP serta barang-barang elektronik lainnya. Bahkan ada seorang pedagang HP yang terpaksa mengeluarkan uang jutaan untuk berdamai dengan petugas kepolisian,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, narasumber Kombes Pande Cakra dari Mabes Polri menyatakan hal ini terjadi karena banyak penjual HP atau pemilik counter kurang memahami pasal 480 KUHP tentang tindak pidana penadahan. Pamen di NCB Interpol yang lama bergelut didunia reserse ini mengatakan agar menghadapi petugas secara wajar, misalnya tanyakan surat tugas dan lain lain.

Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan, kata Pande, misalnya membuat surat pernyataan kepada masyarakat atau konsumen yang ingin menjual barangnya. Atau bisa juga meningkatkan penguatan internal dan tidak akan pernah mau diambil barangnya oleh aparat kepolisian, apabila petugas tidak dilengkapi dengan surat tugas atau surat penyitaan barang.

“Bisa juga penjual HP membentuk asosiasi atau komunitas di area tertentu. Dalam komunitas itu rutin diadakan pertemuan, kalau perlu menghadirkan kapolres, kapolsek, pemkot atau intitusi terkait. Sehingga keberadaan pemilik counter kuat, dan kalau ada masalah-masalah hukum atau lainnya, bisa diselesaikan secara baik-baik,” kata Pande Cakra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *