KISRUH

PILKADA KABUPATEN INTAN JAYA PAPUA KISRUH

HARIANTERBIT.CO – Telah terjadi tragedi kemanusiaan dan demokrasi di Kabupaten Intan Jaya, hal tersebut menyusul terjadinya kisruh pada pemilihan kepala daerah setempat. Pendukung pasangan calon nomor urut dua menekan dan mengancam KPU Intan Jaya untuk menetapkan pasangan tersebut sebagai pemenang pemilihan bupati dan wakil bupati.

Bupati Kabupaten Intan Jaya Papua Natalis Tabuni mengatakan, masih ada suara dari tujuh kecamatan yang belum direkap dan terjadi demokrasi yang chaos di Intan Jaya dalam proses rekapitulasi suara sampai juga terjadi korban nyawa. “Tragedi tersebut terjadi setelah ada aksi saling serang dan provokasi dari tokoh-tokoh politik tertentu,” kata Natalis Tabuni, saat jumpa pers, di Hotel Grand Cemara, Menteng, Jakarta, Sabtu (23/3).

Masyarakat yang awam terpancing emosi dan termovitasi untuk tekan KPUD yang sedang melaksanakan rekapitulasi, yang dimulai 22 Februari 2017 lalu, awalnya berjalan lancar dan kondisi normal tersebut berubah keesokan harinya. Pihaknya mendapat laporan jika mulai hari itu, pasangan calon nomor dua mengarahkan pendukungnya untuk mengepung KPU Intan Jaya.

“Ada oknum yang memprovokasi sehingga pendukung paslon nomor dua dan paslon nomor tiga terlibat bentrok, akibatnya dua orang tewas dari kubu paslon tiga tewas di kubu paslon dua. Selain itu, sekitar 600 orang luka-luka, juga mengakibatkan seluruh fasilitas KPU hancur, bahkan kantor KPU dirusak dan semua atap bolong akibat lemparan batu namun kantor KPUD Intan Jaya tidak dibakar, hanya dirusak massa. Yang terbakar adalah seju,” ujar Bupati Intan Jaya.

Bupati Intan Jaya Natali Tabuni, beserta anggota DPRD Intan Jaya, Yan Kobogeyau,saat jumpa pers di Hotel Grand Cemara Menteng, Jakarta, Sabtu (25/3).
Bupati Intan Jaya Natali Tabuni, beserta anggota DPRD Intan Jaya, Yan Kobogeyau,saat jumpa pers di Hotel Grand Cemara Menteng, Jakarta, Sabtu (25/3).

Meski konflik persoalan tersebut bakal diselesaikan lewat dewan adat, namun proses hukum harus berjalan dan aparat keamanan meringkus pelaku yang memprovokasi massa berujung perang antarpendukung tersebut. Ini menjadi tragedi kemanusiaan yang cukup serius dalam demokrasi, karena ada chaos di tengah-tengah proses rekapitulasi suara.

“Di sana terjadi kejadian yang luar biasa seperti saling serang atau menekan, provokasi oleh tokoh-tokoh politik tertentu sehingga masyarakat awam terpancing dan termovitasi untuk tekan KPUD yang sedang melaksanakan rekapitulasi,” ungkap Natali.

Sebagaimana diketahui, Pilbup Intan Jaya diikuti empat paslon, yakni (1) Bartolomius Mirip dan Deni Miagoni diusung Partai Golkar, PKS, PPP, PKPI, (2) Yulius Yapugau dan Yunus Kalabetme diusung PDI Perjuangan, (3) Paslon Natalis Tabuni dan Yan Kobogeyau diusung Partai Demokrat, Hanura, PAN, PPP, dan (4) Thobiaz Zonggonau dan Hermanus Miagoni melalui jalur perseorangan.

“Pemerintah Kabupaten Intan Jaya menyatakan, telah menyiapkan anggaran sebesar Rp10 milliar untuk penanganan konflik pilkada yang terjadi di daerah itu, dana untuk perdamaian digunakan untuk menyelesaikan konflik, rehabilitas rumah warga yang rusak, ternak termasuk pengobatan korban luka-luka serta bayar kepala enam orang yang meninggal. Dana sebesar itu kami sudah anggarkan di APBD 2017,” pungkas Tabuni. (*/dade/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *