PERISTIWA

BPPT-PT BARATA INDONESIA KERJA SAMA MEMBUAT MESIN PRODUKSI PASTA

HARIANTERBIT.CO – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT Barata Indonesia (Persero) menandatangani perjanjian kerja sama dan kontrak untuk pembuatan mesin produksi pasta berbasis bahan baku lokal. Kerja sama ini dalam rangka produksi massal mesin hasil desain BPPT oleh PT Barata Indonesia (Persero).

“Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Sebagai bagian dari usaha terpenuhinya kondisi pangan bagi masyarakat Indonesia, ada beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain, kebutuhan pangan pokok (beras) yang tinggi, pengurangan luas lahan pertanian produktif akibat konversi penggunaannya untuk keperluan nonpertanian,” kata Kepala BPPT Dr Ir Unggul Prijanto, saat penandatangan perjanjian kerja sama antara BPPT dengan PT Barata Indonesia di Kantor BPPT Jakarta, Kamis (15/12).

Termasuk juga, lanjut Unggul, pola konsumsi yang kaku, sehingga upaya diversifikasi pangan sering terhambat. Kemudian kecilnya margin usaha tani yang berakibat pada rendahnya motivasi petani untuk berproduksi.

Kepala BPPT Dr Ir Unggul Prijanto, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Silmy Karim, Direktur Pusat Teknologi Agroindustri Dr Hardaning Pranamuda, Deputi Kepala Bidang TAB Prof Dr Eng Eniya Listani Dewi BEng, MEng, Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media-BUMN Fajar Hari Sampurna, Plt Kepala Pusyatek Ir Iwan Rawal Husdi MEng, dan Direktur PT Barata Indonesia (Persero) Ir Tony Budi Santosa, saat penandatanganan perjanjian kerja sama BPPT-PT Barata Indonesia di Kantor BPPT, Kamis (15/12).
Kepala BPPT Dr Ir Unggul Prijanto, Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Silmy Karim, Direktur Pusat Teknologi Agroindustri Dr Hardaning Pranamuda, Deputi Kepala Bidang TAB Prof Dr Eng Eniya Listani Dewi BEng, MEng, Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media-BUMN Fajar Hari Sampurna, Plt Kepala Pusyatek Ir Iwan Rawal Husdi MEng, dan Direktur PT Barata Indonesia (Persero) Ir Tony Budi Santosa, saat penandatanganan perjanjian kerja sama BPPT-PT Barata Indonesia di Kantor BPPT, Kamis (15/12).

Di samping itu, pada 2030 diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 300 juta jiwa, sehingga berpotensi menimbulkan kerawanan ketahanan pangan utamanya terhadap kuantitas maupun kualitas bahan pangan.

Unggul mengatakan, ada enam strategi pemerintah dalam menciptakan ketahanan pangan nasional yakni, intensifikasi lahan pertanian di Pulau Jawa, ekstensifikasi lahan pertanian di luar Pulau Jawa, diversifikasi bahan pangan pokok, inovasi teknologi pengolahan pangan dari hulu sampai hilir, rekayasa sosial, dan penerapan kebijakan perdagangan yang memihak kepada petani.

“BPPT sebagai lembaga pemerintah nonkementerian dapat melaksanakan tiga dari enam strategi tersebut yaitu, melakukan intensifikasi lahan pertanian melalui penerapan teknologi budidaya yang unggul, melakukan pengkajian dan penerapan teknologi diversifikasi bahan pangan pokok, dan penerapan inovasi teknologi pengolahan pangan dari hulu sampai hilir,” ungkap Unggul.

Melalui program diversifikasi pangan karbohidrat, sejak tahun 2010, BPPT telah menngembangkan mesin untuk memproduksi pasta seperti mie, makaroni, beras buatan berbahan baku tepung lokal seperti sagu, jagung, singkong, ubi jalar dan sebagainya.

“Sampai saat ini teknologi BPPT tersebut telah digunakan di 28 industri kecil dan menengah yang tersebar di 12 provinsi dan 22 kabupaten di seluruh Indonesia,” tutup Unggul Prijanto. (*/dade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *