PERISTIWA

PELAKU TEROR DIBENTUK MELALUI PROPAGANDA MEDIA SOSIAL

HARIANTERBIT.CO – Pengamat terorisme Ansyaad Mbai mengatakan pelaku teror tunggal atau yang dikenal dengan istilah lone wolf dibentuk melalui media sosial dengan berbagai propaganda oleh kelompok radikal-teroris.

“Untuk menjadi radikal, mereka tidak perlu bertemu seseorang atau kelompok serta tidak perlu datang ke suatu tempat untuk berbaiat, tapi cukup melalui gadget, mereka bisa teradikalisasi,” kata Ansyaad di Jakarta, Selasa (25/10).

Ansyaad mengatakan kelompok radikal sangat lihai memainkan propaganda melalui media sosial atau dunia maya. Mereka menjerat pengikutnya dengan meracuni pemikiran, semisal dengan diberikan tayangan video kejadian mengerikan di Timur Tengah.

Salah satunya video tentang aksi Amerika Serikat, NATO, dan sekutu lainnya yang menindas dan membantai kelompok radikal.

“Dari situ timbul rasa empati, dan secara perlahan mulai terjadi self radicalization yang kemudian menumbuhkan motivasi menjadi lone wolf,” ujarnya.

Tercatat tiga aksi lone wolf terjadi di tahun 2016. Diawali aksi penyerangan Polresta Solo, kemudian penyerangan pendeta di sebuah gereja di Medan, dan terakhir penyerangan petugas kepolisian di Tangerang.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pertama ini juga menjelaskan bahwa terjadinya lone wolf tidak lepas dari banyak terungkapnya aksi-aksi terorisme yang dilakukan secara berkelompok.

“Mereka berpikir aksi kelompok akan lebih mudah dideteksi aparat keamanan, dibandingkan dengan aksi sendirian,” paparnya.

Untuk mendeteksi sekaligus mencegah terjadinya lone wolf, Ansyaad menegaskan agar upaya-upaya penindakan secara fisik harus lebih digencarkan.

Selain itu, juga harus diwaspadai para jihadis dan FTF (foreign terrorist fighter), para pengikut ISIS asal Indonesia yang pulang dari Suriah dan Irak.

“Dari informasi yang saya dapat, sudah lebih dari 50 FTF yang kembali ke Indonesia, tapi yang baru ditangani pengadilan baru 11 orang. Sisanya ke mana?” ungkap mantan Kapolda Sumatera Utara ini.

Upaya lainnya adalah dengan mengimbau kepada keluarga dan masyarakat agar memproteksi lingkungan dari penyebaran paham radikal. Menurutnya, ciri paham radikal paling menonjol adalah ucapan mereka yang mengkafir-kafirkan orang lain serta menyerukan jihad.

Dalam hal ini, Ansyaad menilai peran ulama sangat vital. Ia mengimbau agar ulama lebih proaktif menyebarkan pemahaman agama Islam yang rahmatan lil alamin dan moderat ke tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *