PERISTIWA

SANTRI HARUS POSISIKAN DIRI SEBAGAI PENGAWAL NKRI

HARIANTERBIT.CO – Pemerintah telah menetapkan Hari Santri Nasional, yang puncaknya akan dirayakan pada 22 Oktober mendatang. Penetapan ini harus dimaknai tidak hanya sebagai bentuk pengakuan atau rekognisi, tetapi sekaligus penghargaan negara terhadap pondok pesantren, khususnya kalangan santri terutama atas kontribusinya yang luar biasa dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pemilihan tanggal 22 Oktober 2016 sebagai Hari Santri Nasional, pada hakikatnya didasarkan pada resolusi jihad yang diserukan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 silam.

“Resolusi jihad itulah yang menjadi momentum kebangkitan kaum santri dalam perjuangan mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, namun yang patut disadari oleh kaum santri dan tentu seluruh keluarga besar pondok pesantren, bahwa hari santri tidak semata sebagai rekognisi sebagai pengakuan negara atas sumbangsih kontribusi yang begitu besar yang telah diberikan santri dunia pondok pesantren terhadap bangsa dan negara,” kata Menag Lukman Hakim Saifuddin di Hotel Century Ancol, Jakarta Utara, Kamis (13/10) malam.

Menag Lukman Hakim Saifuddin (kiri) memberikan hadiah kepada santri pemenang lomba menulis cerpen di Hotel Century Ancol, Jakarta Utara, Kamis (13/10) malam.
Menag Lukman Hakim Saifuddin (kiri) memberikan hadiah kepada santri pemenang lomba menulis cerpen di Hotel Century Ancol, Jakarta Utara, Kamis (13/10) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak semua kalangan, terutama kaum santri untuk memaknai hari santri sebagai wujud tanggung jawab

“Kita kalangan santri dunia pondok pesantren melalui penetapan hari santri haruslah memiliki tanggung jawab yang semakin besar atas nasib bangsa dan negara Indonesia tercinta hari ini dan masa yang akan datang,” tandas Lukman.

Lukman lebih lanjut mengatakan, seperti apa Indonesia kita 10, 20, 50, 100 tahun yang akan datang, itu juga menjadi tanggung jawab utama kalangan santri sebagai mayoritas dari bangsa ini.

“Kini lebih dari tujuh dasawarsa setelah resolusi jihad dikumandangkan para santri dan dunia pesantren tetap memposisikan diri sebagai pengawal NKRI, sebuah kesetiaan yang makin dibutuhkan di tengah situasi Indonesia belakangan ini yang diwarnai oleh munculnya kelompok-kelompok ekstrem dan intoleran yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan kita berbangsa dan bernegara,” tutur Menag Lukman.

Santri kini telah bertransformasi menjadi kekuatan baru kekuatan yang dengan sadar membangun peradaban Indonesia, tak dapat dipungkiri jika santri adalah aset berharga yang dimiliki bangsa ini, jumlah mereka yang banyak dan keberadaannya yang menyebar di seantero negeri berpotensi menjadi energi pembangun yang dahsyat terlebih mereka mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, memiliki jejaring kuat dan bisa melebur diri secara integral dalam masyarakat.

“Aset berharga ini harus dirawat agar dia membawa maslahat tidak hanya di bidang sosial keagamaan, dalam bidang ekonomi politik dan kebudayaan. Saat ini, kita telah menyaksikan pameran foto dan cerpen karya para santri secara nasional, yang terselenggara melalui proses lomba dan seleksi dewan guru secara ketat dan bertahap di hadapan kita semua tersaji karya-karya foto yang baik karya para santri yang membuktikan sisi lain dunia santri yang tidak saja cerdas dan religius namun juga peka kreatif dan efektif,” pungkas Lukman Hakim Saifuddin. (dade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *