DAERAH

BAYI KEMBAR SIAM BERKEPALA DUA DI MAKASSAR MENINGGAL

HARIANTERBIT.CO – Bayi kembar siam berkepala dua yang dilahirkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya meninggal dunia setelah mendapat perawatan tim medis selama empat hari di ruang Neonatal Intensif Care Unit (NICU) rumah sakit itu Sabtu (17/9).

Bayi berkepala dua itu diberi nama Nurwanda dan Nurwindi oleh kedua orang tuanya, Heriyasmin (39) dan Fitriani (33). Bayi itu dilahirkan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Rabu lalu lewat operasi caesar.

Ayah sang bayi mengikhlaskan kepergian anak keduanya itu. Ia menolak permintaan rumah sakit untuk dilakukan operasi yang melibatkan 23 dokter ahli.

Bayi kembar siam berkepala dua, Nurwanda dan Nurwindi, dari Makassar, akhirnya meninggal dunia karena kondisinya semakin memburuk pascakelahirannya.
Bayi kembar siam berkepala dua, Nurwanda dan Nurwindi, dari Makassar, akhirnya meninggal dunia karena kondisinya semakin memburuk pascakelahirannya.

“Setelah lahir hari Rabu itu, sempat anakku menangis. Pada hari Kamis, kondisinya sudah kritis sampai dia meninggal. Di ruang NICU, anakku satu beri bantuan pernafasan manual dan satunya lagi diberi bantuan pernafasan dengan sistem komputer. Memang kembar siam sejak dalam kandungan,” kata Heriyasmin di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo.

Heri mengungkapkan, anaknya meninggal akibat kondisi tubuhnya yang tidak normal. Anaknya juga mengalami lemah jantung.

“Memang susah hidup, kasihan anakku itu. Karena satu badan dua kepala. Dua kepala yang menghirup udara, sedangkan satu jantungnya,” kata Heri.

Selama dirawat, bayi malang ini dibantu alat pernapasan, lahir dengan berat badan 3,4 kilogram, dengan panjang badan 42 sentimeter, apgar score (suatu metode penilaian yang digunakan untuk mengkaji kesehatan neonatus dalam menit pertama setelah lahir, red) dalam kondisi sesak.

Pihak keluarga akan membawa jenazah bayi tersebut ke Kabupaten Bulukumba untuk dimakamkan. Heriyasmin mengatakan, anaknya rencana dikuburkan di kampung istrinya, Fitriani, di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Alo, Kabupaten Bulukumba, Sulawesui Selatan.

Meski tinggal di Jalan Perintis Kemerdakaan VII Makassar, Heri menyatakan, jasad anaknya tidak akan dibawa ke sana dan langsung dibawa ke kampung halaman. “Tidak di bawa pulang ke rumah, tapi langsung dibawa ke Bulukumba,” kata pria yang sehari-hari menjadi buruh bangunan itu sambil menunggu ambulans.

Meski demikian, masalah Heri belum selesai mengingat dana pemulangan anaknya memerlukan biaya besar untuk dibawa ke daerah dan menunggu bantuan dermawan.

“Biaya ke sana untuk ambulans Rp1,360 juta setelah didiskon rumah sakit Rp1,7 juta. Berat rasanya karena uang sangat terbatas mudah mudah ada bisa bantu-bantu, saya ini hanya tukang batu,” tutur Heri terlihat kebingungan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *