DAERAH

POLISI TETAPKAN 12 TERSANGKA KERUSUHAN DI TANJUNGBALAI

HARIANTERBIT.CO – Kepolisian terus melacak provokator kerusuhan dan sudah menetapkan 12 orang sebagai tersangka terkait pembakaran sejumlah wihara di Tanjungbalai, Sumatera Utara (Sumut).

Kapolres Tanjungbalai AKBP Ayep Wahyu Gunawan mengatakan polisi terus mengusut kerusuhan yang terjadi di Tanjungbalai, Sumut. Hingga saat ini, polisi telah menetapkan 12 tersangka untuk dua kasus berbeda dan memeriksa 39 saksi terkait insiden itu. Jumlah tersangka bertambah dari yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Awalnya, kami tetapkan tujuh tersangka terkait penjarahan dan mereka sudah ditahan. Kemudian bertambah satu orang. Jadi, total ada delapan tersangka terkait penjarahan,” kata Ayep, Senin (1/8).

Untuk kasus penjarahan, polisi telah menetapkan delapan warga sebagai tersangka. Mereka dikenakan Pasal 363 KUHP tentang pencurian. Untuk kasus perusakan, polisi sudah menangkap empat orang. Dengan begitu, jumlah tersangka terkait kerusuhan di Tanjung Balai hingga saat ini ada 12 orang.

“Keempat orang yang diamankan tersebut juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Untuk keseluruhan saksi yang diperiksa sudah 39 orang,” ujarnya.

Terkait identitas seluruh tersangka, Ayep mengaku belum bisa menyampaikan. Menurut dia, pihaknya masih melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap para tersangka itu.

Sementara itu menurut keterangan, Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting menyampaikan polisi masih melanjutkan pemeriksaan terhadap 12 tersangka kerusuhan. “Mereka ditangkap dan diproses dalam kaitannya melakukan penjarahan. Untuk provokator kerusuhan itu masih diselidiki, termasuk pelaku yang melakukan pengrusakan dan pembakaran,” paparnya.

Ada yang menebarkan provokasi melalui media sosial, sebelum massa membakar sejumlah wihara. Provokasi itu memanfaatkan orang untuk menyulut emosi massa, sehingga terjadi pembakaran rumah ibadah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kerusuhan di Tanjung Balai berawal dari protes seorang perempuan keturunan Tionghoa terhadap suara speaker di sebuah masjid yang terlalu keras. Protes itu menyebabkan warga yang hendak shalat bersitegang.

Permasalahan muncul ketika di medsos terjadi provokasi. Ada yang bilang masjid dilempari, imam diusir, ada juga yang bilang shalat magrib dihentikan. Postingan-postingan provokasi itu menyebar luas disertai seruan pembakaran wihara.

Saat ini situasi di Tanjungbalai sudah aman dan kondusif. Garis polisi yang dipasang di lokasi kerusuhan sudah dibuka. Bekas kerusuhan pun telah dibersihkan secara bersama-sama. Meski begitu, aparat gabungan Polri-TNI masih terus berjaga di sekitar lokasi dan sejumlah titik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *