DAERAH

PEMPROV DKI AMBILALIH SWAKELOLA TPST BANTARGEBANG

HARIANTERBIT.CO – Dinas Kebersihan Pemprov DKI mengambilalih Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Pemerintah DKI Jakarta telah mendatangkan alat berat untuk menggantikan kekosongan sarana dan prasarana di TPST Bantargebang, Kota Bekasi.

Kepala Dinas Kebersihan DKI, Isnawa Adji menyampaikan pihaknya membutuhkan masa transisi sekitar 30-60 hari ke depan. Masa 30-60 hari ke depan, sejak pengambilalihan pada Rabu (20/7) kemarin, kata Isnawa, dinamakan joint inspection, yakni masa peralihan untuk melakukan pendataan aset, pegawai, mobilisasi alat berat milik Pemprov DKI ke TPST Bantargebang dan sebagainya.

“Pengelolaan akan kami lakukan secara swakelola dulu dan kami mohon dukungan para pakar dan tetap bertanya kepada pengelola sebelumnya, dalam penanganan sampah di TPST,” ujar Isnawa Adji saat meninjau TPST Bantargebang.

Dia melanjutkan, pengelola TPST Bantargebang sebelumnya yakni PT Godang Tua Jaya (GTJ) dan PT Navigate Organic Energy Indonesia (NOEI), memahami keinginan Pemprov DKI untuk melakukan swakelola TPST Bantargebang.

“Kami bersyukur, pihak GTJ memahami keinginan DKI melakukan swakelola TPST. Pengambilalihan GTJ dengan Pemprov DKI berjalan sangat baik dan akomodatif,” katanya.

Pihaknya akan mengerahkan belasan alat berat untuk menangani sampah di TPST Bantargebang.

“Kami akan mengerahkan beberapa alat berat seperti 15 unit refuse compactor, shovel dan waste loader ke TPST Bantargebang. Jumlah armada alat berat akan bertambah sesuai dengan kebutuhan disini,” sambung Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan Pemprov DKI, Hari Nugroho.

Hingga saat ini, sedikitnya sudah ada tujuh alat berat jenis shovel atau “bakhoe” yang beroperasi di TPST Bantargebang.

Pembuangan sampah DKI masih ditempatkan di Zona I, dekat dengan lokasi timbangan truk sampah. “Operator kami sudah siap dan mengoperasikan alat berat,” paparnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Koalisi Persampahan Nasional (KPNas), Benny Tunggul mengatakan kondisi saat ini di TPST Bantargebang semakin semrawut. Tumpukan sampah tidak diolah dan dibiarkan menumpuk, bahkan ada penumpukan sampah di jalan lintasan truk sampah.

Dia menerangkan, tidak gampang mengelola sampah yang volumenya mencapai 7.000 ton per hari. “Perlu tenaga ahli yang berpengalaman dalam menangani persoalan sampah di TPST Bantargebang,” jelas Benny Tunggul, Kamis (27/7).

Bahkan dia menuding, upaya swakelola yang digembor-gemborkan Dinas Kebersihan Pemprov DKI, hanya sebatas wacana apabila tidak menggandeng pihak ketiga dalam pengelolaan sampah di TPST Bantargebang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *