KISRUH

SISTEM GENAP GANJIL, TUNGGU HASIL EVALUSAI 3 IN 1

HARIANTERBIT.CO – Hari pertama uji coba penghapusan 3 in 1 dilaksanakan Selasa 5 April 2016. Laporan perkembangan 3 in 1 yang terjadi setiap hari, selama dua minggu akan dievaluasi.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berencana akan kembali menerapkan kebijakan ganjil-genap sebagai pengganti sistem “3 in 1” yang akan dihapus. Sistem ini memberlakukan kendaraan yang bisa melewati jalan tertentu berdasarkan nomor kendaraan ganjil atau genap.

“Tapi penerapannya tergantung evaluasi (uji coba penghapusan ‘3 in 1’) dua minggu ini. Kalau evaluasi kemacetannya mirip, ya tidak perlu diterapkan. Kalau tambah parah harus terapkan ganjil-genap sambil tunggu ERP (electronic road pricing),” ujar Ahok di Balai Kota, Selasa (5/4).
Basuki mengatakan, pengganti “3 in 1” yang paling efektif hanyalah penerapan ERP. Namun karena kesiapan ERP sendiri belum mantap maka pilihan ganjil-genap menjadi hal yang paling memungkinkan.

“Kami memang dari awal akan menghapus ‘3 in 1’, karena itu banyak membuat kemacetan. Kami juga mau menuju ERP, waktu mau menuju ERP kami pikir bisa cepat. Sebenarnya sebelum ke ERP, kami mau ke ganjil-genap,” katanya.

Kebijakan ganjil-genap sendiri sudah digagas sejak tahun 2013, kajiannya pun sudah dilakukan. Pemprov DKI tidak jadi menerapkan kebijakan tersebut karena dinilai bisa langsung menerapkan ERP. Nyatanya hingga saat ini ERP proses lelangnya belum dilaksanakan dan sekadar uji coba saja.

“Makanya kami akan evaluasi dulu (penghapusan ‘3 in 1’) ini sampai minggu depan. Laporan tadi, justru jalan-jalan yang dipojok malah kosong. Ada lokasi ‘3 in 1’ yang masih macet, makanya nanti kita harus pikir (solusi pengganti sebelum ERP),” paparnya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansah menambahkan, Walau bukan solusi menuntaskan kemacetan diharapkan kasus eksploitasi anak bisa dihilangkan dengan cara tersebut.

“Pemberlakuan 3 in 1 macet, saat uji coba ini juga macet. Kalau dulu masalahnya dua, macet dan kasus eksploitasi, kalau sekarang tinggal macetnya saja,” jelasnya.

Dikatakan, permasalahan macet sendiri sebenarnya juga disebabkan banyaknya ruas jalan yang tidak dipergunakan dengan benar. Hal tersebut termasuk bahu jalan jadi parkiran kendaraan, angkutan berhenti seenaknya, dan beberapa masalah lainnya.

“Sementara untuk mengatasi kepadatan bus transjakarta ditambah 30 unit selama uji coba 3 in 1 diberlakukan,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *