KASUS

AHOK: SAYA BUTUH LURAH JUJUR,BUKAN LURAH PINTER

HARIANTERBIT.CO – Ahok marah lagi. Gubernur DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama, kali marah besar, karena merasa dikadali (dibohongi) oleh Leo Tantino Lurah Kartini, Sawah Besar, Jakarta Pusat. “Saya tidak butuh orang pinter yang saya butuhkan orang jujur,” ungkapnya kesal, Rabu (27/1) di balaikota DKI.

Leo dinilai merusak sistem yang sudah dibangun Pemerintah DKI Jakarta. Sebab, prilaku itu mengganggu sistem kerja dan menimbulkan rasa ketidakpercayaan. Presensi bukan syarat utama menjalankan tugas sebagai PNS DKI. PNS DKI perlu memberlakukan budaya malu bohong.

Dengan nada berapi-api Ahok menegaskan, jika salah satu pemimpin di satuan kerja perangkat daerah berani bohong, maka berimbas pada kinerja pegawai. Seluruh sistem kerja akan terganggu dan menimbulkan rasa ketidakpercayaan.

“Absen saja sudah berani nyuruh anak buahnya bohong. Anak buahnya PPSU ikut bohong enggak? Kalau PPSU ikut bohong, ya rusak dong sistem saya,” katanya.

Saefuddin alias Poleng, 40, petugas prasarana dan sarana umum yang menerima titipan absen bekas Lurah Kartini Leo Tantino menyesali perbuatannya. Poleng berjanji tidak akan menerima titipan absen lagi. “Kasus ini pertama dan terakhir bagi saya,” tandasnya.

Poleng menuturkan sekitar Maret 2015 ia diperintahkan Leo memindai jari telunjuk kanan untuk pembuatan absen. Sidik jari Poleng diisi data diri Leo. Poleng tak kuasa menolak permintaan Leo saat itu. Apalagi, Leo merupakan atasannya di Kelurahan Kartini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *