DAERAH

BEBASKAN DARI SIFAT KETERGANTUNGAN

HARIANTERBIT.CO – Banyak sifat ketergantungan. Saat kita lahir, kita bergantung kepada orangtua kita, tumbuh dewasa bergantung kepada saudara dan saudari. Jika orang memukul kalian, kalian pulang ke rumah dan berkata, “Kakak, pergilah dan pukullah dia!” Kita bergantung kepada saudari, saudara, bergantung kepada guru, dan bergantung kepada suami dan istri.

Kalian senantiasa bergantung kepada orang. Suami tak bisa memasak, harus menyuruh istri. Istri, karena dia pandai memasak, dia melakukan banyak hal untuk suami, sehingga sang suami takut kepada dia. Tanpa istri, sang suami tamat. Dia tak bisa memasak, dia mati; dia tak bisa menjahit
kancing dengan benar di bajunya, dia mati, misalnya.

Jadi, dia memerlukan dan bergantung pada istrinya. Istrinya tahu itu dan bertingkah buruk. Semua istri bergantung kepada suami karena uang, karena ketenaran, karena rasa aman, karena reputasi, apa saja. Maka, keduanya tidak bebas. Kita pikir kita bebas, tapi kita sangat terbatas.

Kebanyakan orang menyerah atau menundukkan kepala mereka hanya karena rasa aman, kebiasaan, atau tiada keberanian. Hanya demi hal-hal pribadi. Tidak apa-apa. Asalkan kalian bahagia dan merasa tenteram, itu oke.

Namun, ingatlah bahwa kita tidak begitu bebas jika kita selalu bergantung dan mengandalkan orang lain untuk melakukan segala hal bagi kita tak pernah dapat berkembang. Kita tak pernah dapat memiliki intisari hidup yang sebenarnya dan pilihan dalam hidup yang kita tahu mengapa itu pantas dijalani dan bagaimana kebijaksanaan kita dapat semakin berkembang setiap hari. Bagaimana kita dapat menggunakannya, jika kita telah benar-benar mendapatkan manfaat dari latihan ini.

Sumber:
http://www.godsdirectcontact.org.tw/eng/news/70/d-1.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *