DAERAH

PENGEMBANGAN MEGAPOLITAN ARAH TIMUR DAN BARAT

HARIANTERBIT.CO – Nampaknya para pengusul salah satu mempresepsikan tentang konsepsi Megapolitan yang menganggap konsep pengelolaan wilayah adalah di bawah satu kordinasi. Namun, konsepsi Megapolitan dan konsep pengelolaan wilayah adalah dua hal yang berbeda.

Pusat Sumber Daya Air Tanah Dan Geologi Lingkungan Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Oki Oktariadi mengatakan, megapolitan adalah phonomena pertumbuhan wilayah perkotaan akibat menyatunya beberapa wilayah metropolitan yang terjadi secara alamiah dan tanpa dikehendaki.

“Bersyukur lah ternyata yang disyahkan adalah Peraturan Presiden No.54 Tahun 2008 tentang Kawasan Jabotedabekpunjur yang mengarahkan pengembangan ke arah timur dan barat wilayah pesisir meliputi Jakarta, Tangerang, dan Bekasi (Jatabek),” katanya, Senin (14/12).

Saat Koordnasi Media dan Kemitraan dengan tema “Sosialisasi Peran dan Fungsi Badan Geologi untuk Masyarakat Perkotaan”, di Kantor Badan Diklat ESDM, Jalan. Gatot Subroto kav 49, Jakarta.
Sementara itu, wilayah selatan seperti Bogor, Puncak, dan Cianjur (Bopunjur) yang berada di bagian hulu atau imbuhan air tanah diharapkan dapat dipertahankan sebagai kawasan konservasi air untuk menyelamatkan kawasan bawahan yaitu Jatabek.

Oki, menjelaskan megapolitan pada hakeketanya adalah road basin development menetapkan pengembangan wilayah megapolitan Jabodetabekpunjur akan pada pelaksanaan pembangunan secara masif dan besar-besaran yang mengarah ke selatan ke arah Bogor sampai ke Cianjur, sehingga daerah imbuhan air tanah (resepan air) akan banyak tertutup dan bisa menyebabkan aliran permukaan meningkat yang akhirnya wilayah bawahan banjir.

“Oleh karena itu, bisa dibayangkan apa jadinya bila wilayah Jabotabekpunjur dikembangkan sebagai sebuah megapolitan. Kemungkinan Jakarta, Tangerang, dan Bekasi akan semakin tenggelam oleh meningkatnya aliran permukaan bisa terjadi seperti yang dirasakan saat ini. Istilah yang digunakan awalnya adalah megalopolis, dicetuskan tahun 1961 oleh seorang ilmuwan Perancis Prof. Jean Gottmann,” ujarnya. (dade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *