BISNIS

BANYAK WARGA YANG TAK TAHU BAHAYANYA MSG

HARIANTERBIT.CO – “Hargai hidup Anda. Berikan makanan terbaik untuk tubuh setiap hari,” pesan mulia ini disampaikan Agatha Virdhi Saputra. S.Pd. masyarakat banyak yang kurang menyadari, bahkan tidak tahu sodium glutamat atau MSG.

Agatha Virdhi Saputra. S.Pd, adalah wirausaha muda binaan Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kementerian Pemuda Dan Olahraga Republik Indonesia. Fokus usaha yang dikembangkan selama ini bergerak di bidang bioteknologi pangan membuat penyedap masakan berbahan baku Jamur tanpa MSG (Monosodium Glutamat).

Produsen makanan industri kebanyakan menggunakan MSG sebagai penguat cita rasa produknya. Karena zat ini mampu menyeimbangkan, menyatukan, dan menyempurnakan cita rasa makanan. “Namun di balik itu, mengandung banyak zat kimia yang membahayakan kesehatan,” papar penyandang penghargaan Juara 1 Kategori Jasa Boga LombaWirausaha Muda Pemula Berprestasi Tingkat Nasional 2015 dari Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora ini.

Menurut Agatha, pola makan masyarakat belakangan ini semakin bertumpu pada makanan modern yang mengandung pengawet dan penyedap berbahan zat kimia. Inilah salah satu yang menjadi keprihatinannya. Berawal dari keprihatinan tersebut, Agatha kemudian membangun usaha, mendirikan CV. Agatha Pratama, yang bergerak di bidang bioteknologi pangan membuat penyedap masakan berbahan baku Jamur tanpa MSG.

Usaha ini didirikan sejak tahun 2014 yang kini mempekerjakan puluhan karyawan. Beralamat di kediaman yang sekaligus dijadikan tempat usahanya (Workshop dan Pemasaran), di Griya Mangli AJ 9 Jember Jawa Timur.

Dalam kurun waktu satu tahun, dengan nilai investasi awal sebesar 35 juta rupiah, usahawan muda kelahiran Jember, 28 Agustus 1989 ini, kini telah memiliki aset berjalan tak kurang dari 113 juta rupiah, dengan omset per bulan rata-rata 19 – 25 juta rupiah. Jatuh bangun telah dirasakan Agatha merintis usaha.

“Bahkan hampir bangkrut karena minimnya pengetahuan dalam hal pemasaran produk,” ungkapnya.

Awalnya Agatha melihat peluang berbisnis di Jamur. Produk yang dikemas Agatha merupakan inovasi terbaru dari industri pasca panen jamur tiram.

“Selama ini jamur tiram hanya digunakan menjadi makanan siap saji. Melihat tren dunia yang sedang dalam pengembangan makanan sehat (healthy food), maka saya memutuskan membuat produk penyedap masakan dengan bahan baku jamur non MSG ini,” ceritanya.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Agatha bekerjasama dengan para petani budi daya jamur. Para petani menjual hasil budi daya jamur tiramnya kepada Agatha dengan harga kompetitif.

“Secara tidak langsung, selain menjaga kapasitas produk, saya juga membantu para petani. Apalagi karena permainan tengkulak harga jamur sering fluktuatif dan tak jarang merugikan petani,” terangnya.

Kehadirannya di Jakarta belum lama ini, dalam rangka menerima hadiah sebesar 50 juta rupiah, sebagai pemenang lomba Wirausaha Muda Pemula 2015, yang diadakan Kemenpora, benar-benar memberi spirit baru dalam mengembangkan usahanya. Agatha berharap, Pemerintah pusat maupun daerah dapat lebih memperhatikan para wirausaha muda seperti dirinya, yang sering menghadapi tantangan, salah satunya dalam hal permodalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *