BISNIS

INDUSTRI SAWIT TULANG PUNGGUNG PEREKONOMIAN

HARIANTERBIT.CO – Industri sawit berkembang semakin pesat di Indonesia dan telah menjadi tulang punggung perekonomian negara. Namun, devisa yang dihasilkan dari ekspor minyak sawit telah membantu menyelamatkan defisit neraca perdagangan Indonesia, sementara di daerah, industri minyak sawit menggerakkan ekonomi daerah, menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang dan membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan khususnya di daerah pedesaan.

Saat ini juga pemanfaatan minyak sawit di dalam negeri untuk biofuel terus ditingkatkan. “Dengan demikian impor minyak fosil akan semakin berkurang yang artinya defisit neraca perdagangan karena belanja minyak bumi yang tinggi akan semakin kecil dan bahkan bisa menjadi surplus jika mandatori penggunaan minyak nabati dilaksanakan dengan baik,” kata Wakil Ketua Umum/Ketua Panitia IPOC Mona Surya, Selasa (9/11), di Jakarta.

Dengan demikian imfor minyak fosil akan semakin berkurang yang artinya defisit neraca perdagangan karena belanja minya bumi yang tinggi akan semakin kecil dan bahkan bisa menjadi surplus jika mandatori penggunaan minyak nabati dilaksanakan dengan baik.

Mona, menjelaskan Indonesia telah menjadi penghasil minyak sawit terbesar di dunia yang saat ini menguasai pangsa pasar dunia minyak nabati sebesar 38 persen. “Dengan industri yang terus berkembang, Indonesia telah menjadi sorotan dan menjadi kompetitor yang cukup disegani bagi negara penghasil minyak nabati,” ujarnya.

Sementara itu, dalam rangka terus mempromosikan kelapa sawit Indonesia dan meningkatkan perdagangan minyak sawit serta serta mengetahui perkembangan industri terkini, GAPKI berkomitmen terus menyelenggarakan konferensi sawit berkaliber internasional secara berkelanjutan. GAPKI dengan bangga kembali menyelenggarakan acara konferensi internasional kelapa sawit tahunan yang dikenal dengan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC).

Tahun ini 11th Indonesia Palm Oil Cenference and 2016 Price Outlook akan diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convencation Center, Bali pada tanggal 25-27 November 2015. IPOC merupakan wadah para pelaku bisnis dan pemangku kepentingan (stakeholders), pemilik, CEO dan eksekutif, dan para pengambil kebijakan baik tingkat nasional maupun internasional, untuk bersama-sama membahas isu-isu strategis di seputar industri kelapa sawit dari hulu sampai ke hilir.

ELNINO MENDONGKRAK

Sementara itu, Direktur Eksekutif GAPKI, Fadhil Hasan menjelaskan El-Nino yang melanda Indonesia telah membantu mendongkrak harga minyak sawit beberapa sawit beberapa sat dan mengerek ekspor sawit Indonesia. Namun, sepanjang Oktober ekspor sawit Indonesia tercatat meningkat 11,6 persen atau 2,34 juta ton pada September meningkat menjadi 2,61 juta ton pada Oktober 2015.

“Harga rata-rata CPO global pada Oktober 2015 terkerek menjadi US$ 578,2 per metrik ton atau naik 9,7 persen dibandingkan dengan harga rata-rata September di US$ 526,9 per metrik ton. Salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan dan naiknya harga CPO global yaitu bencana kabut asap yang melanda Indonesia, sehingga mengganggu panen,” ungkap Fadhil.

Fadhil, mengungkapkan para trader mulai membeli minyak sawit dengan jumlah besar sebelum minyak sawit mulai langkah dan harga terangkat lebih tinggi dari saat ini. Namun, permintaan yang mulai banyak dengan sendirinya mendorong kenaikan harga.

“Selain itu faktor yang menyebabkan naiknya permintaan adalah karena stok minyak biji-bijian (repeseed dan bunga matahari) yang berkurang karena panen yang tidak sesuai dengan ekspektasi akibat dari cuaca yang tidak mendukung. Faktor lainnya adalah meningkatnya serapan minyak sawit dalam program biofuel (B15),” katanya.

Oleh karena itu, ekspor minyak sawit Indonesia terdongkrak oleh permintaan yang signifikan dari beberapa negara seperti Afrika, Amerika, China dan India. Lanjut, Fadhil, Negara-negara Afrika sepanjang Oktober membukukan impor minyak sawit Indonesia sebanyak 259 ribu ton atau meningkat 340 persen dibandingkan bulan sebelumnya hanya mencatat permintaan sebesar 58,93 ribu ton.

Namun, permintaan diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 117,74 ribu ton atau naik 133 persen dibandingkan bulan sebelumnya dimana permintaan hanya 50,62 ribu ton. “Pada Oktober juga membukukan kenaikan permintaan minyak sawit dari Indonesia sebesar 36 persen atau dari 278,99 ribu ton pada September menjadi 378,97 ribu ton di Oktober,” ujarnya fadhil. (dade)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *